Pages

Ads 468x60px

Labels

Menggabungkan Partisi Harddisk Windows 7/8/8.1

Bagi kamu yang Telah Memecah Partisi Harddisk seperti pada artikel yang saya bagikan : Cara Mudah Membagi Partisi Harddisk di Windows 7, 8 tetapi kamu ingin Menggabungkan Partisinya kembali seperti semula

Sebelum Menggabungkan Partisi Harddisk, sebaiknya anda baca dulu poin berikut ini :


  • Apabila misalkan Anda Ingin Menggabungkan Drive D dengan Drive H maka terlebih dahulu anda pindahkan semua data di Drive H ke Drive D. Karena saat proses Penggabungan nanti Drive H akan diformat. 
Nah setelah anda memindahkan semua data, sekarang Kita akan mulai menggabungkan Partisi Harddisk.
Menggabungkan Partisi Harddisk Windows 7/8/8.1

#1 Buka Disk Management dengan ketik Disk Management pada kotak pencarian Windows lalu Klik Create & Format Harddisk Partitions

#2 lalu akan tampil menu Disk Management. Disini saya mempunyai 3 Partisi/Drive Harddisk, yaiyu Drive  C, D, & H. Saya akan Menggabungkan Drive D dengan Drive H yang kosong.

Cara Menggabungkan Partisi Harddisk Windows 7/8/8.1
#3 Klik Kanan Pada Drive H lalu klik Delete, lalu klik Yes
Cara Menggabungkan Partisi Harddisk Windows 7/8/8.1
#4 Kemudian Drive H akan Menjadi Unallocated Drive, Klik kanan Pada Drive D lalu pilih Extend Volume.

Cara Menggabungkan Partisi Harddisk Windows 7/8/8.1

#5 Kemudian Muncul Menu lalu Klik Next

Cara Menggabungkan Partisi Harddisk Windows 7/8/8.1

#6 Klik Next lagi

Cara Menggabungkan Partisi Harddisk Windows 7/8/8.1

#7 Lalu Klik Finish

Cara Menggabungkan Partisi Harddisk Windows 7/8/8.1


#8 Selesai, Partisi H & D kamu sudah tergabung

Cara Menggabungkan Partisi Harddisk Windows 7/8/8.1

Sumber : www.ilmuwebster.com
Baca Selengkapnya →Menggabungkan Partisi Harddisk Windows 7/8/8.1

Membagi Partisi Hardisk Windows 8

Umumnya kalau kita membeli laptop atau komputer baru yang branded dengan OS Windows, harddisk drive lokalnya biasanya hanya akan ada C saja.

Agar ada drive  lainnya, misalnya D atau E kita dapat membagi partisi dari drive C untuk dijadikan drive lokal lainnya sesuai dengan yang kita inginkan.

Sama seperti halnya pada Windows 7, untuk membagi atau menambah partisi harddisk di Windows 8 dapat dilakukan langsung tanpa menggunakan software/aplikasi tambahan, yaitu dapat dilakukan melalui menu Computer Management.

Dari Desktop pilih  File Explorer, kemudian klik kanan pada Computer
Kemudian klik Manage.



Akan muncul jendela Computer Management
Pada menu Storage pilih Disk Management
Kemudian pilih volume atau partisi yang akan dibagi (dalam hal ini C)


Klik kanan pada partisi drive C tersebut, kemudian pilih/klik Shrink Volume (mengecilkan volume).


Akan muncul isian berapa besar volume yang akan dishrink
kalau anda bingung dengan angka atau jumlah yang harus diisikan, biarkan saja angka yang sudah ada yang dibuat oleh sistem.(sistem membagi dua dengan ukuran yang sama)

Klik tombol Shrink


Proses shrink hanya sebentar saja, anda kemudian sudah dapat melihat drive C_nya sudah menyusut/mengecil ukuran volumenya, dan anda akan melihat ada space baru unallocated space. unallocated space ini kemudian akan kita buat volume baru.


Untuk membuat  volume baru :
Klik kanan pada unallocated space
Pilih New Simple Volume


Kemudian akan muncul wizard, kita tinggal pilih Next..next

Tentukan berapa ukuran volume yang akan dibuat, atau biarkan untuk ukuran maksimal karena sudah terisi, klik Next.


Pilih drive letter yang anda inginkan, misal drive D, E, dst, klik Next


Pada wizard selanjutnya biasanya hanya memberi nama volume, dibiarkan juga tidak apa-apa (New Volume) karena  dapat dengan mudah diganti di lain kesempatan.
Beri ceklist pada Perform a Quick format, agar proses formatnya cepat. Klik Next




Setelah proses selesai maka anda akan melihat drive hardisk lokal baru di dalam menu Computer.


Sharing ke temanmu.
SUmber : http://www.tipstriks.com
Baca Selengkapnya →Membagi Partisi Hardisk Windows 8

Syaikhona Kholil Gurunya Para Kiai


Syaikhona Kholil Gurunya Para KiaiJudul: KH. M. Kholil Bangkalan Biografi Singkat 1835-1925
Penulis    : Muhammad Rifa’i
Editor: Meita Sandra
Penerbit: Garasi Yogyakarta
Cetakan: 2010
Tebal: 148 hlm.
Peresensi: Moh. Riwann Rifa’I, S. Pdi
Sumber: http://www.nu.or.id
KH Mustafa Bisri (Gus Mus) menyebutnya, kekeramatan atau karamah yang memancar pada diri Kiai Kholil Bangkalan bukan datang secara tiba-tiba, namun lahir dari proses penempaan diri yang sangat panjang. Semenjak remaja, beliau terbiasa menjalani pola hidup yang sederhana dan memprihatinkan, pahit manis, suka dan duka dalam perjalanan hidupnya ia pernah jalani. Maka tidak berlebihan jika banyak orang memuji Kiai Kholil. Zamakhsyari Dhofier dalam penelitiannya tentang jaringan intelektual Islam Indonesia, Syaikhona Kholil Bangkalan adalah termasuk salah satu tokoh yang mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan pendidikan Islam di Indonesia.

Selain itu, Syaikhona Kholil termasuk salah satu gurunya para Kiai se  Jawa dan Madura bahkan seluruh Indonesia. Adapan diantara murid-muridnya yang pernah berguru adalah, KH. Hasyim Asy’ari pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama (organisasi terbesar di Indonesia), Kiai Abdul Wahab Hasbullah (Jombang), Kiai Bisri Syansuri (Jombang), Kiai Abdul Manaf (Lirboyo-Kediri), Kiai Maksum (Lasem), Kiai Munawir (Krapyak-Yogyakarta), Kiai Bisri Mustofa (Rembang Jateng), Kiai Nawawi (Sidogiri), Kiai Ahmad Shiddiq (Jember), Kiai As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), Kiai Abdul Majjid (Bata-Bata Pamekasan), Kiai Toha (Bata-Bata Pamekasan), Kiai Abi Sujak (Astatinggi Kebun Agung, Sumenep), Kiai Usymuni (Pandian Sumenep), Kiai Muhammad Hasan (Genggong Probolinggo), Kiai Zaini Mun’im (Paiton Probolinggo), Kiai Khozin (Buduran Sidoarjo). Bahkan Ir. Soekarno Presiden RI pertama, menurut penuturan Kiai Asa’ad Samsul Arifin, Bung Karno meski tidak resmi sebagai murid Kiai Kholil, namun ketika sowan ke Bangkalan, Kiai Kholil memegang kepala Bung Karno dan meniup ubun-ubunya (hal.51-53).

Dalam mendidik santri-santrinya, Kiai Kholil sangatlah luar biasa dalam mengemban sebuah amanah dan tanggung jawab sebagai seorang guru. Dari beberapa santri di atas, mayoritas semua menjadi tokoh publik dan bisa dipertanggung jawabkan intergritas keilmuannya sebagai seorang santri. Juga mayoritas santri Kiai Kholil menjadi orang  yang sukses, menjadi seorang Kiai, dan pengasuh pesantren. Dalam mendidik santrinya, Kiai Kholil yang terkenal menekankan sikap zuhud dan ikhlas dalam menuntut ilmu, beliau juga memiliki metode tersendiri dalam menggembleng para santrinya. Sebagai seorang pendidik, beliau tidak mau hanya mengajar biasa saja, yaitu membacakan kitab kuning, menyuruh santri mendengarkan dan menulis pelajaran, kemudian mempelajarinya, ataupun menghafalnya.

Pengabdian dan perjuangan Kiai Kholil sangatlah luar biasa, beliau salah satu Kiai yang ikut membantu membidani berdirinya Jam’iyah Nadlatul Ulama (NU). Walaupun Kiai Kholil tidak pernah masuk dalam struktural NU, tetapi semua tokoh NU mengetahui terhadap sumbangsih Kiai Kholil atas berdirinya organisasi terbesar di Indonesia (NU). Jadi posisi Kiai Kholil dalam sejarah proses berdirinya Nahdlatul Ulama adalah inspirator. Karena latar belakang sejarah berdirinya NU tidaklah mudah. Untuk mendirikannya, para ulama meminta izin terlebih dahulu kepada Allah SWT. Adapun permohonan pertama diprakarsai oleh Kiai Hasyim Asy’ari yakni melalui salat istikharah. Namun petunjuk itu tidak langsung melalui Mbah Hasyim, melainkan melalui Kiai Kholil Bangkalan.

Buku biografi singkat Kiai Kholil Bangkalan ini, juga menjelaskan beberapa karamah-karamah yang beliau miliki. Di antara karamah yang beliau miliki, ke Makkah Naik Kerocok (sejenis daun aren yang dapat mengapung di atas air). Suatu sore di pinggir pantai daerah Bangkalan, Kiai Kholil ditemani oleh Kiai Syamsul Arifin ayahanda dari Kiai As’ad Situbondo. Bersama sahabatnya itu, mereka berbincang-bincang tentang pengembangan pesantren dan persoalan umat Islam di daerah pulau Jawa dan Madura. Persoalan demi persoalan dibicarakan, tak terasa, saking asyik dan enaknya berdiskusi, matahari hampir terbenam. Padahal Kiai Kholil dan Kiai Syamsul Arifin belum melaksanakan kewajiban shalat asar, sementara waktunya hampir habis. Kata Kiai Kholil, tidak mungkin kita melaksanakan shalat asar dengan sempurna dan khusyuk. Akhirnya Kiai Kholil memerintah Kiai Syamsul Arifin untuk mengambil “kerocok”, untuk kita pakai perjalanan ke Makkah. Setelah mendapatkan kerocok, lantas Kiai Kholil menatap ke arah Makkah, tiba-tiba kerocok yang ditumpanginya berjalan dengan cepatnya menuju ke arah Makkah. Sesampainya di Makkah, adzan shalat asar baru saja dukumandangkan. Setelah mengambil wudlu, Kiai Kholil dan Kiai Syamsul Arifin segera menuju shaf pertama untuk melaksanakan shalat asar berjamaah di Masjidil Haram (hal.105).

Dalam buku ini, juga dijelaskan tentang pemikiran kerakyatan Kiai Kholil. Sebagai seorang Kiai dan seorang pemimpin yang dihormati di daerah Bangkalan, Madura bahkan di Jawa, Kiai Kholil menampilkan diri sebagai sosok pemimpin yang memikirkan rakyatnya. Oleh karena itu, beliau tidak menjadi seorang pemimpin dan tidak menjadi seorang intelektual yang hanya berada dalam pesantrennya saja. Beliau terjun langsung untuk mengetahui seperti apa keberadaan rakyatnya dan sedang menghadapi kesulitan seperti apa masyarakatnya. Sosok Kiai Kholil inilah, justru mampu menampilkan sebagai pemimpin yang merakyat, dan mengayomi semua kalangan.

Sejarah biografi Syaikhona Kholil Bangkalan telah banyak orang yang menulisnya, seperti yang ditulis Oleh KH. A. Aziz Masyhuri (99 Kiai Pondok Pesantren Nusantara), Muhammad Hasyim (Khazanah Khatulistiwa, Potret Kehidupan dan Pemikiran Kiai-Kiai Nusantara). Dan penulis buku ini, kebanyakan data-datanya mengambil dari buku-buku yang telah terbit sebelumnya. Namun buku ini tetaplah menarik untuk dibaca oleh semua kalangan khususnya para santri pondok pesantren. Dengan harapan bisa mentauladani dan mengambil hikmah apa yang pernah dilakukan, diperjuangkan oleh Syaikhona Kholil Bangkalan.  Wallahu  a’lam

Staf Pengajar Nasy’Atul Mutallimin Candi Dungkek Sumenep Madura
Baca Selengkapnya →Syaikhona Kholil Gurunya Para Kiai

KH.Syaikhona Cholil Bangkalan Madura



Tak pernah malu belajar, kendati gurunya sangat jauh lebih muda darinya. Dari Syekh Ahmad al-Fathani yang seusia anaknya, ia belajar ilmu nahwu dan mengembangkannya di Tanah Air.
Nama lengkapnya adalah Kiai Haji Muhammad Khalil bin Kiyai Haji Abdul Lathif bin Kiai Hamim bin Kiai Abdul Karim bin Kiai Muharram bin Kiyai Asrar Karamah bin Kiai Abdullah bin Sayid Sulaiman. Nama terakhir dalam silsilahnya, Sayid Sulaiman, adalah cucu Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, satu dari sembilan Wali Songo.

Kiai Muhammad Khalil dilahirkan pada 11 Jamadilakhir 1235 Hijrah atau 27 Januari 1820 di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur. Dia berasal dari keluarga ulama. Pendidikan dasar agama diperolehnya langsung daripada keluarga. Menjelang usia dewasa, ia dikirim ke berbagai pondok pesantren untuk menimba ilmu agama.

Sekitar 1850-an, ketika usianya menjelang tiga puluh, Kiai Muhammad Khalil belajar kepada Kiai Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur. Dari Langitan, ia pindah ke Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan, dan Pondok Pesantren Keboncandi. Selama belajar di pondok-pesantren ini, ia belajar pula kepada Kiai Nur Hasan yang menetap di Sidogiri, 7 kilometer dari Keboncandi.

Saat menjadi santri, Muhammad Khalil telah menghafal beberapa matandan yang ia kuasai dengan baik adalah matan Alfiyah Ibnu Malik yang terdiri dari 1.000 bait mengenai ilmu nahwu. Selain itu, ia adalah seorang hafidz (hafal Alquran) dengan tujuh cara menbacanya (kiraah).

Pada 1276 Hijrah 1859, Kiai Muhammad Khalil melanjutkan pelajarannya ke Makkah.
Di sana, ia bersahabat dengan Syekh Nawawi Al-Bantani. Ulama-ulama Melayu di Makkah yang seangkatan dengannya adalah Syekh Nawawi al-Bantani (lahir 1230 Hijrah/1814 Masehi), Syekh Muhammad Zain bin Mustafa al-Fathani (lahir 1233 Hijrah/1817 Masehi), Syekh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani (lahir 1234 Hijrah/1818 Masehi), dan Kiai Umar bin Muhammad Saleh Semarang.

Ia adalah orang yang tak pernah lelah belajar. Kendati sang guru lebih muda, namun jika secara keilmuan dianggap mumpuni, maka ia akan hormat dan tekun mempelajari ilmu yang diberikan sang guru. Di antara gurunya di Makkah adalah Syekh Ahmad al-Fathani. Usianya hampir seumur anaknya. Namun karena tawaduknya, Kiai Muhammad Khalil menjadi santri ulama asal Patani ini.

Kiai Muhammad Khalil Al-Maduri termasuk generasi pertama mengajar karya Syeikh Ahmad al-Fathani berjudul Tashilu Nailil Amani, yaitu kitab tentang nahwu dalam bahasa Arab, di pondok pesantrennya di Bangkalan. Karya Syekh Ahmad al-Fathani yang tersebut kemudian berpengaruh dalam pengajian ilmu nahwu di Madura dan Jawa sejak itu, bahkan hingga sekarang masih banyak pondok pesantren tradisional di Jawa dan Madura yang mengajarkan kitab itu.

Kiai Muhammad Khalil juga belajar ilmu tarikat kepada beberapa orang ulama tarikat yang terkenal di Mekah pada zaman itu, di antaranya Syekh Ahmad Khatib Sambas. Tarikat Naqsyabandiyah diterimanya dari Sayid Muhammad Shalih az-Zawawi.

Sewaktu berada di Makkah, ia mencari nafkah dengan menyalin risalah-risalah yang diperlukan para pelajar di sana. Itu pula yang mengilhaminya menyususn kaidah-kaidah penulisan huruf Pegion bersama dua ulama lain, yaitu Syekh Nawawi al-Bantani dan Syekh Saleh as-Samarani. Huruf Pegon ialah tulisan Arab yang digunakan untuk tulisan dalam bahasa Jawa, Madura dan Sunda. Huruf Pegon tidak ubahnya tulisan Melayu/Jawi yang digunakan untuk penulisan bahasa Melayu.

Sepulang dari Makkah, ia tersohor sebagai ahli nahwu, fikih, dan tarikat di tanah Jawa. Untuk mengembangkan pengetahuan keislaman yang telah diperolehnya, Kiai Muhammad Khalil selanjutnya mendirikan pondok pesantren di Desa Cengkebuan, sekitar 1 kilometer arah barat laut dari desa kelahirannya. Pondok-pesantren tersebut kemudian diserahkan pimpinannya kepada anak saudaranya, sekaligus adalah menantunya, yaitu Kiai Muntaha. Kiyai Muntaha ini berkahwin dengan anak Kiyai Muhammad Khalil bernamIa sendiri mengasuh pondok pesantren lain di Bangkalan.

Kiai Muhammad Khalil juga pejuang di zamannya. memang, saat pulang ke Tanah Air ia sudah uzur. Yang dilakukannya adalah dengan pengkader para pemuda pejuang di pesantrennya untuk berjuang membela negara. Di antara para muridnya itu adalah KH Hasyim Asy'ari (pendiri Pondok-pesantren Tebuireng, Jombang, dan pengasas Nahdhatul Ulama), KH Abdul Wahhab Hasbullah (pendiri Pondok-pesantren Tambakberas, Jombang); KH Bisri Syansuri (pendiri Pondok Pesantren Denanyar), KH Ma'shum (pendiri Pondok Pesantren Lasem, Rembang), KH Bisri Mustofa (pendiri Pondok-pesantren Rembang), dan KH As'ad Syamsul `Arifin (pengasuh Pondok-pesantren Asembagus, Situbondo).

Kiai Muhammad Khalil al-Maduri wafat dalam usia yang lanjut, 106 tahun, pada 29 Ramadan 1341 Hijrah, bertepatan dengan tanggal 14 Mei 1923 Masehi

Contents from: Republika dan Kitab klasik islami

Baca Selengkapnya →KH.Syaikhona Cholil Bangkalan Madura

4G LTE Hadir di Surabaya Jawa Timur

Telkomsel 4G LTE Surabaya

VIVA.co.id - Layanan mobile 4G LTE Telkomsel terus meluas ke berbagai kota di Indonesia. Setelah Jakarta, Bali, Bandung, kini layanan akses internet cepat itu telah hadir sebagai yang pertama di Surabaya. Peresmian teknologi seluler generasi keempat itu dilakukan pada akhir pekan lalu, Minggu 22 Maret 2015.

Rilis teknologi 4G LTE itu diharapkan bisa mendukung kota Surabaya dalam mewujudkan kota pintar (smart city).
“Kami bangga mempersembahkan layanan Telkomsel 4G LTE bagi kota Surabaya. Semoga hadirnya layanan Telkomsel 4G LTE di kota Surabaya dapat menjawab kebutuhan masyarakat akan akses data yang lebih cepat di era mobile digital lifestyle saat ini,” kata Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah dalam keterangan tertulis, Senin 23 Maret 2015.

Layanan 4G LTE yang dipercaya akan dapat meningkatkan produktivitas para penggunanya, termasuk dalam hal ini pemerintah kota Surabaya yang saat ini telah memanfaatkan berbagai sistem online dalam hal pelayanan publik.

Saat ini kota Surabaya telah memanfaatkan sistem online, di antaranya untuk sistem administrasi kependudukan, sistem administrasi perizinan, sistem monitoring area publik, penerimaan murid baru, Surat Izin Mengemudi (SIM), portal pariwisata, CCTV pemantau lalu lintas, serta Traffic Management Center.

Telkomsel terus mengalami pertumbuhan layanan data di Kota Surabaya, yaitu sebesar 18 persen selama tahun 2014. Sedangkan dari sisi konsumsi penggunaannya, juga terjadi peningkatan sebesar 38 persen.

Untuk mendukung pengalaman jaringan 4G di Kota Surabaya, Telkomsel membangun 161 eNode B yang mencakup wilayah di Kota Surabaya, meliputi inner kota Surabaya, inner kota Sidoarjo, dan inner kota Gresik, termasuk area seperti mal, perkantoran, gedung pemerintahan, daerah residensial, dan tempat wisata.
Selain itu, guna konsistensi pengalaman jaringan 4G LTE melalui pengalaman seamless, Telkomsel bersinergi dengan Telkom menggelar WiFi untuk melengkapi cakupan Telkomsel 4G LTE, terutama yang berada di dalam ruangan.
Tujuh Kota 4G
Untuk menikmati layanan Telkomsel 4G LTE, pelanggan harus menggunakan ponsel 4G dengan memakai kartu SIM 4G LTE atau uSIM. Pelanggan juga harus berada di wilayah yang sudah dilayani jaringan Telkomsel 4G LTE untuk dapat merasakan pengalaman 4G LTE.

Telkomsel memberitahukan pelanggan di Surabaya dapat menukarkan kartu SIM mereka mereka dengan uSIM, ataupun kartu perdana 4G simPATI dan kartuHALO di GraPARI Pemuda, GraPARI Tunjungan Plaza, GraPARI Plaza Marina, GraPARI Bukit Darmo, GraPARI WTC dan GraPARI HR Muhammad.
Saat ini layanan Telkomsel 4G LTE juga telah menjalin kerjasama dengan sembilan mitra 4G LTE international roaming, yaitu Maxis (Malaysia), SK Telecom (Republik Korea), SingTel (Singapura), Optus (Australia), Mobily (Arab Saudi), Vodafone (Inggris& Spanyol), CSL (Hongkong) dan Taiwan Mobile (Taiwan). Hal ini memungkinkan para pelanggan yang mengunjungi negara-negara tersebut tetap dapat terhubung dengan jaringan cepat 4G LTE.

Di semester pertama tahun ini Telkomsel menggelar di tujuh kota atau area di Indonesia, yakni Jakarta, Bali, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar dan Manado. (ren)

Sumber : http://teknologi.news.viva.co.id

Telkomsel 4G LTE Hadir di Surabaya, Wali Kota Risma Senang


Setelah menggelar layanan 4G LTE di area Jakarta, Bali, dan Bandung, Telkomsel memperluas cakupan layanan internet mobile generasi keempatnya itu di kota Surabaya.
Peresmian peluncuran layanan seluler generasi keempat itu dilakukan oleh Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah dan disaksikan langsung oleh Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini pada hari ini, Minggu (22/3/2015).

“Kami bangga dapat memberikan layanan 4G LTE bagi kota Surabaya, semoga layanan ini dapat menjawab kebutuhan masyarakat akan akses data yang lebih cepat di era mobile digital lifestyle saat ini,” ujar Ririek.
“Ini (Surabaya) adalah kota keempat, tapi terbesar kedua setelah Jakarta dalam hal coverage,” imbuh Ririek.
Jangkauan koneksi 4G Telkomsel di Surabaya diklaim Telkomsel mencakup hampir seluruh wilayah, termasuk area Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo dengan dukungan 169 BTS yang telah mendukung 4G.
Telkomsel sendiri mengklaim terus mengalami pertumbuhan layanan data di kota Surabaya.
Hal tersebut menurut Telkomsel terlihat dari peningkatan pelanggan data di kota tersebut, yakni sebesar 18 persen selama tahun 2014. Sedangkan dari sisi konsumsi penggunaannya, juga terjadi peningkatan sebesar 38 persen.
Hadirnya layanan Telkomsel 4G LTE, diharapkan akan memberikan pelanggan pengalaman mobile digital lifestyle yang sesungguhnya.
Sementara Walikota Surabaya, Tri Rismaharani dalam sambutannya mengapresiasi Telkomsel yang menjadi operator seluler pertama yang menggelar layanan 4G di Surabaya.
Jaringan 4G tersebut menurut Risma diharapkan jangan hanya digunakan untuk kebutuhan konsumerisme saja, melqinkan juga untuk mendukung produktivitas.
“Warga Surabaya kini bisa mengakses program-program untuk bisnis dengan teknologi telekomunikasi yg lebih bagus lagi,” ujar Risma.

Sumber: http://www.radarpekalonganonline.com
Baca Selengkapnya →4G LTE Hadir di Surabaya Jawa Timur
 

Followers

 
Blogger Templates